Bagaimana bila kehidupan manusia di dunia ini diepisodekan, mungkin bisa
kita bagi menjadi enam episode; mulai episode balita, anak-anak, remaja,
dewasa, tua dan episode lanjut usia. Lanjut usia merupakan
episode terakhir dari kehidupan dunia seseorang yang apabila diibaratkan
seperti putaran hari maka ia menggambarkan saat-saat menjelang matahari
terbenam, dimana sebentar lagi, entah sesaat atau dua saat lagi kita
pun akan meninggalkan dunia menuju akhirat yang belum kita ketahui gelap
terangnya, tidak seperti matahari yang meninggalkan siang yang sudah jelas menuju waktu malam yang gelap.
Setelah sekian puluh tahun menjalani kehidupan dunia yang merupakan
perniagaan antara untung dan rugi, usia senja kita saat ini merupakan
saat dimana tidak ada lagi hal yang lebih penting bagi kita selain bekal
amalan yang cukup untuk menggapai kerohmatan Robbul ‘alamin azza wajalla.
Sudah saatnya kita bertaubat dan ber-istighfar (memohon
ampunan) atas segala dosa dan maksiat yang dulu pernah kita lakukan,
baik yang kita sadari maupun yang sangat banyak diantaranya yang tidak
kita sadari. Sudah saatnya kita berharap-harap cemas di hadapan
Alloh azza wajalla dengan memperbanyak amal sholih; berharap diterimanya
amal sholih kita, dan cemas bila saja amal yang telah kita lakukan
tidak diterima oleh-Nya. Sudah saatnya kita mempersiapkan pundi-pundi
amal sholih untuk mengumpulkan pahala dan mengharap rohmat-Nya azza
wajalla.
Barangkali sabda Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam berikut bisa menjadi salah satu pelita bagi kita:
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ صَدَقَةٌ جَارِيَةٌ وَعِلْمٌ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٌ صَالِحٌ يَدْعُو لَهُ
”Bila seorang manusia telah meninggal dunia maka terputuslah
amalannya kecuali tiga perkara; shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat
dan anak sholih yang berdo’a untuknya”.[1]
Bila kita memiliki ketiga pundi-pundi amalan tersebut dan mampu
melakukan semuanya maka sungguh itu merupakan sebuah kebaikan di atas
kebaikan. Namun, bila hanya sebagiannya saja yang bisa kita tunaikan,
jangan bersedih juga jangan berduka, istighfar dan yakinlah bahwa sungguh masih banyak pundi-pundi amal lainnya yang sanggup kita tunaikan dengan ma’unah (pertolongan) Alloh subhanahu wata’ala.
Patut kita simak sebuah riwayat yang harus kita perhatikan dan kita
ambil faedahnya yang sangat agung dan manfaatnya yang begitu besar bagi
kita. Yaitu tatkala Robi’ah bin Ka’ab al-Aslami radhiyallahu anhu,
seorang sahabat yang mulia, bermalam bersama Rosululloh shallallahu
‘alaihi wasallam, lalu dia datang kepada Rosululloh shallallahu ‘alaihi
wasallam sambil membawakan air wudhu untuk beliau dan beberapa keperluan
beliau. Saat itu beliau mengatakan kepadanya: “Mintalah sesuatu!”
Dengan penuh semangat dan harapan yang kuat, Robi’ah radhiyallahu anhu
memohon kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam untuk bisa
mendampingi beliau di Surga kelak. Mendengar permintaan Robi’ah
radhiyallahu anhu, beliau ingin meyakinkannya dengan bertanya kepadanya:
“Atau kamu minta yang lainya?” Robi’ah radhiyallahu anhu pun dengan mantap menjawab: “Tidak, ya itulah (permintaanku)”. Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wasallam pun mengabulkan permohonannya seraya memberitahukan kuncinya dengan sabda beliau:
فَأَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ
“Bila demikian, bantulah aku supaya bisa memenuhi permintaanmu dengan kamu memperbanyak sujud (yaitu sholat)”
Sholat! Ya, hanya sholat. Itulah yang disebutkan oleh Rosululloh
shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Robi’ah bin Ka’ab radhiyallahu anhu,
sebuah kunci untuk bisa mendampingi beliau shallallahu ‘alaihi wasallam
di Surga. Semoga bila kita melakukannya akan mendapatkan seperti apa
yang didapatkan oleh Robi’ah bin Ka’ab radhiyallahu anhu.
Sungguh betapa cerdasnya sebuah pasutri yang di usia senjanya mampu
meraup segudang bahkan bergudang-gudang pahala dari amal sholihnya. Kita
memohon ma’unah kepada Alloh azza wajalla semoga kita mampu melakukannya, Amin.
HR. Tirmidzi: 1297 dari Abu Huroiroh, dan Imam Tirmidzi mengatakan
hadits ini hasan shohih, dan dishohihkan oleh al-Albani rahimahullahu
ta’ala dalam Shohih Sunan at-Tirmidzi: 1376

0 komentar:
Posting Komentar